Sabtu, 12 April 2008 sesuai dengan rencana kami perwakilan dari Komunitas 80-an akan pergi menjenguk seorang tokoh yang pernah mewarnai kehidupan masa remaja kami di 80-an. Sedikit tentang kami, Komunitas 80-an ( ada di lapanpuluhan@yahoogroups.com dan http://lapanpuluhan.org) adalah sekumpulan orang yang menaruh minat dengan segala hal yang membawa kami mengenang kembali masa muda di dekade 80-an. Dan rencana kunjungan ini adalah salah satu bentuk kegiatan kami dalam hal sosial dan kemanusiaan.
Kunjungan ini berawal dari sebuah kabar dari teman mengenai jatuh sakitnya seorang penulis yang pada akhir dekade 80-an sempat menjulang namanya. Penulis itu dikenal dengan nama Gola Gong. Dialah penulis cerita serial remaja “Balada si Roy” yang sempat menjadi pesaing kuat dari serial “Lupus” karya Hilman. Serial itu juga sempat menghiasi majalah Hai, dan kemudian diterbitkan sebagai buku. Sebagai komunitas yang sangat mencintai era 80-an, kabar sakitnya Gola Gong hingga harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit tentu saja membuat kami tergerak untuk menjenguk dan menyatakan simpati.
Tepat pukul 15.30 kami tiba di Rumah Sakit Internasional Holistic yang berlokasi di Purwakarta. Rumah Sakit yang menggunakan konsep seperti Rumah Peristirahatan itu tampak sangat asri dengan pemandangan hijau perbukitan di sekelilingnya. Udara yang sejuk dan nyaman membuat siapapun yang mendatangi tempat ini akan merasakan kedamaian dan ketentraman. Tempat yang memang sangat layak untuk beristirahat dan menenangkan jiwa.
Disana kami terlebih dahulu menemui dan menjemput dr. Fanny yang tinggal tidak begitu jauh dari RSI Holistic. Dr. Fanny ini adalah dokter yang bertanggung jawab langsung dalam menangani kesehatan Gola Gong. Bersama dr. Fanny kami pun bergegas menuju kamar nomor 406, kamar tempat Golagong dirawat. Ternyata si pengarang buku legendaris itu sedang berada di ruangan lain untuk menjalani terapi. Kami diminta untuk menunggu di salah satu sudut taman yang asri yang dilengkapi dengan tempat duduk yang terbuat dari semen.
Sambil menunggu sang pasien tersebut menjalani terapi, kami berbincang-bincang dengan dr. Fanny mengenai kesehatan Golagong.
“Mas Gong telah dirawat disini sejak 1 bulan yang lalu. Keluhannya adalah nyeri di sekitar leher dan tulang belakang. Hal ini dikarenakan beberapa hal antara lain: kebiasaan membawa beban berat yang tidak seimbang, berat badan berlebih, begadang dan pola makan yang kurang teratur mengakibatkan ybs terkena penyakit HNP (hernia nukleus pulposus)”, jelas dr. Fanny
“Kemungkinan untuk sembuh dan kembali ke kondisi awal bisa saja terjadi. Hal ini dapat terwujud apabila mas Gong rutin dan rajin untuk mengikuti terapi yang dianjurkan seperti: Hydro Therapy, Whirpool, Akupuntur, Body Electric, dan juga Electro Magnetic yang saya perkirakan bisa memakan waktu antara 6 bulan hingga 1 tahun kedepan.” Lanjut dr. Fanny
Kamipun terperangah dengan penjelasan medis yang diberikan oleh dokter pribadi Gola Gong sang pengarang idola kami. Bisa dibayangkan berapa banyak lagi biaya yang akan dikeluarkan untuk biaya pengobatan ini. Estimasi dari informasi yang kami terima setiap bulan bisa menelan sekitar Rp. 20 juta. Jadi apabila perawatan dilakukan hingga 6 bulan sampai 1 tahun kedepan sudah bisa dipastikan berapa rupiah lagi yang harus dikeluarkan. Ternyata kalimat SEHAT ITU MAHAL sangat terbukti sekali jika melihat kasus ini.
Di saat kami sedang asik berbincang-bincang dengan dokter ramah tadi, tiba-tiba terdengar sapaan dari seseorang yang memang kami nanti-nantikan. Dialah GOLAGONG yang sore itu terlihat sangat ramah dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya. Rambut yang telah dipotong pendek. Mengenakan kaos dengan jaket yang menutupi badannya yang mulai terlihat sangat ramping cenderung kurus.
“Halo semuanya? Apa kabar? Waduh saya senang sekali dikunjungi oleh teman-teman dari Komunitas 80an. Saya terharu sekali ini. Saya sangat tidak menyangka ternyata teman-teman mau melihat saya kesini. Begitu banyak orang yang terus memberikan perhatian pada kondisi kesehatan membuat saya bahagia sekali. Dan ini merupakan obat yang paling mujarab”. Gola Gong menyapa kami dengan senyum renyahnya.
Kami pun saling bertukar cerita tentang diri kami masing-masing. Gola Gong meskipun dalam kondisi kesehatan yang cukup mengkhawatirkan, namun semangat hidup dan berkarya masih sangat jelas terpancar dari wajahnya. Sang pengarang masih bermimpi untuk terus menghasilkan sesuatu yang berguna bagi negeri ini. Membangun “Rumah Dunia” yang sangat dicintainya, melanjutkan buku yang sudah separuh jalan ditulisnya dan memberikan beasiswa bagi pelajar-pelajar SMP melalui program “Rumah Dunia” nya adalah angan yang harus segera diwujudkan.
Melihat sosok Gola Gong si penyuka The Rolling Stones ini dengan gaya bicara yang tetap semangat meskipun setiap beberapa menit sekali harus bangkit dari tempat duduknya karena menahan nyeri di tulang belakang membuat kami menaruh simpati yang teramat dalam.
Dulu Gola Gong tak mau menyerah dengan kekurangan fisiknya. Tangan kirinya yang diamputasi karena kecelakaan pada masa kecilnya tidak menjadikan ia putus harapan. Dengan bakat dan kemauan keras ia pergi dari Serang untuk menaklukan Jakarta, dan berhasil menjadi seseorang yang diakui kecemerlangan karya-karyanya baik di dunia penulis maupun dunia pertelevisian. Kini atas kehendak Tuhan ia masih harus menghadapi satu ujian hidup lagi. Kami menjadi trenyuh dengan semangatnya yang masih tetap tinggi untuk terus berkarya.
Keinginan kami membantu dan membuat acara khusus untuk penggalangan dana bagi biaya pengobatan yang bersangkutan ditolaknya secara halus. Namun ketika disinggung tentang koleksi kaset dan bukunya yang jumlahnya hampir ratusan buah baik dari artis dan pengarang dalam maupun luar negeri, Gola Gong pun menerima apabila memang koleksinya tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak yang hasilnya bisa digunakan bagi pengobatannya.
Tepat jam 5 sore setelah menyerahkan sedikit bantuan dana dan buah tangan lainnya kamipun kembali ke Jakarta sambil berdoa semoga “Balada Si Roy” bisa kembali SEHAT. Amin.
****
Bagi teman-teman yang terketuk untuk ikut membantu yang bersangkutan dapat mengirimkan sumbangannya dengan transfer melalui
- BCA KCP Cikini a.n. ELVI SYAFITRI rek # 8780109875
- BNI KCP Tanjung Priok a.n. ASSOBRU DHIA rek # 0068112253
- BANK MANDIRI Melawai a.n. FATHIA RANI rek # 126.00.0214914.3