Saya pernah naik Garuda Indonesia, di kursi saya tersedia beberapa saluran musik yang bisa didengarkan dengan menggunakan earphone bawaan kita sendiri. Dari sekian banyak jenis musik yang disediakan, ternyata dangdut tidak ada dalam satu pun saluran. Yang ada hanyalah pop, klasik, jazz, dan rock. Ini sudah cukup membuktikan bahwa dangdut tidak dapat diterima di komunitas kelas ekonomi menengah ke atas.
Coba Anda perhatikan. Di mal, plasa, hotel, bandara, restoran cepat saji, dan sebagainya. Emang pernah musik dangdut terdengar di sana? Terkecuali tempat-tempat karaoke atau toko kaset di mana pengunjung bisa memilih sendiri musik yang bisa diputar. Tapi kalau musik untuk menemani pengunjung berbelanja, belum pernah terdengar dangdut diputar.
Penggolongan dangdut ke kelas bawah juga tak lepas dari tema-tema lirik musik dangdut yang kebanyakan mewakili orang-orang dari golongan ekonomi lemah.
Maaf, Mas Rahmawan. Saya bukan pakar yang pandai menganalisis musik dangdut. Maka ijinkan saya mengutip kolom Fachry Ali yang pernah dimuat di Majalah Gatra. Sumber:
http://soneta.freehostia.com/kliping/rhoma_irama_fachry_ali.htm"Masalahnya mungkin terletak pada cultural schism (perpecahan budaya) antara penganut musik dangdut dan pop, seperti yang saya rasakan di masa remaja, di pinggiran selatan Jakarta. Konstituen musik pertama, secara budaya, terkategorikan “rendah” dan tak memiliki selera budaya kota. Mereka, pada umumnya, tinggal di desa-desa dengan tingkat pendidikan yang tak terlalu tinggi. Pendukung musik kedua sebaliknya. Berselera tinggi, hidup di kawasan perkotaan, dan di atas semuanya berpendidikan relatif tinggi. Maka, sekali lagi, seperti yang saya saksikan, murid sekolah umum yang telah mencapai pendidikan tingkat menengah ka atas di kawasan Pasar Minggu pada 1970-an cenderung mencemooh dangdut. Dunia pendidikan, dalam konteks ini, adalah alat emansipasi intelektual. Tapi dalam konteks kultural, pendidikan itu sendiri telah menciptakan watershed, yang memisahkan struktur selera budaya lampau dengan kekinian. Di sini walau secara geografis tetap berada di tempat yang sama, seseorang yang telah terdidik diharuskan melakukan migrasi kultural."
Saya di kelas apa? Jawabannya ada di homepage Multiply saya. Makasih, Mas Arif.